Ada-Ada Saja, Adik Kecil.. (N-report 1)

Salaam,

Ini cerita ketika saya ngajar. Ceritanya saya sudah menambah puluhan jam untuk pengalaman saya. Dulu saya paling anti tuh ngajar-ngajar. Tapi lama-lama ngajar jadi suatu kegiatan yang fun jika dinikmati dan tahu caranya. Eh tapi saya belum pernah ngajar di kelas lhoo.. *nahlo jadi ini dimana?

Hmm. Jadi ada anak kecil di tempat saya ngajar, dia duduk di kelas 2 SD, sebut saja Nadi. Nadi jarang belajar bersama ketika saya datang, ia hanya datang sekali dua kali. Kali ini Nadi dengan tumbennya datang. Dia membawa buku. Lalu datang anak yang lebih kecil dan diam di sampingnya.

Saya tanya Nadi, “Nadi, dia siapa?”

“Adik saya, namanya Ali”

“Oh, Ali, halo Ali..” saya sapa si A yang lucu imut kecil itu. Umurnya kira-kira 3 tahun lah (Nadi dan anak-anak lain tidak tahu umur Ali sebenarnya, jadi saya tebak saja)

Ali menempel terus pada Nadi. Ketika N akan duduk, dihalang-halangi, atau istilahnya menyeret-nyeret Nadi. Untuk menulis pun Nadi sulit karena Ali terus menempel di bagian kiri tubuhnya. Ali terus saja seperti itu walaupun kami sudah menyuruh dia lepas dari Nadi.

Yang terparah adalah, Ali menjilat lengan Nadi. Waduh! Continue reading

Humans

Salaam

Menulis itu salah satu cara untuk memprovokasi. Beberapa orang, sadar atau ga sadar, pasti tahu akan hal itu. Lewat menulis, kita bisa menyuarakan hal-hal yang bercorong kecil, yang bahkan tak terdengar walau sebagai bisikan.

Hari kamis kemarin saya mengikuti workshop menulis (lagi!). Bedanya, tema workshop lebih fokus, yaitu menulis untuk kemanusiaan. Berat ya kesannya, tapi di sana dapat terlihat bahwa tulisan, kata salah seorang pembicara, A. Fuadi, bisa bertransformasi jadi apa saja. Ketika seseorang meninggal, jika dia menulis, tulisannya tentu tetap hidup, selama tidak ada pihak-pihak yang menghapusnya.

Untuk memberi, tak seharusnya kita menunggu sampai berlebih. Hanya lewat tulisan yang menyuarakan kondisi seseorang, kita juga sudah bisa memberi. Soal mengalirnya bantuan dari pihak-pihak lain, itu misteri Illahi. Setelah melakukan pertolongan, kita biasanya berharap akan suatu perubahan. Di sini, perubahan itu tidak diukur dengan materi, tapi lebih ke nilai yang didapat, apakah seseorang/suatu wilayah yang berubah menjadi lebih baik atau tidak. Hal tersebut diuraikan oleh Bpk Sunaryo A, pembicara lain dlm acara.

Acara kemudian dilanjutkan ke pembacaan tulisan masing-masinf orang (yang mau), dan dikoreksi oleh kedua pembicara. Secara keseluruhan, acara ini menarik. Bagi saya pribadi, membuka wawasan baru dan memberikan motivasi lebih besar terkait dunia tulis-menulis.

Menulis untuk kemanusiaan memang bukanlah hal yang baru. Tidak pula ada kata terlalu awal bagi kita generasi muda untuk memulainya. Mau dulu, kemudian tahu, lalu tuliskan dengan sebaik-baiknya. Perkara tulisan yang terlalu melankolis atau lebai, lama-lama akan terkikis juga, kata Pak Naryo.

Mencari inspirasi menulis, juga tak perlu lah sampai menyepi menyendiri atau jalan-jalan dulu ke tempat-tempat tertentu. Cukup mengobrol dengan orang pun sudah bisa jadi inspirasi, jika otak kita tidak sedang berkabut *seram juga kalo beneran.

Sebagai bonus hari itu, saya dan teman-teman dapat berfoto bersama pembicara. Padahal yang lain ga pada difoto. :”>

Ayo menulis mulai sekarang Rah (saya), dan teman-teman juga, tetap semangat dan makin semangat lagi terus ya.

Salam,

Rahma

N-Report 2

Assalaamu’alaikum

Post saya kali ini akan bercerita tentang kegiatan yang sudah saya dan teman jalani selama beberapa bulan belakangan. Dimulai dari Oktober 2011, kami memulai langkah-langkah kecil agar kemudian bisa melangkah lebih besar. Langkah kecil itu di antaranya yaitu mengajar mereka.

Anak-anak yang berada di berbagai tingkatan sekolah dan berbagai macam kebutuhan. Serta berbagai macam perilaku cute anak-anak, kami temui setiap kegiatan belajar mengajar diadakan.

Jujur saja, akhir-akhir ini, karena saya dan teman saya sudah memulai kuliah lagi, jadi agak sulit untuk membagi waktu. Padahal UAN SMP semakin dekat, dan ada di antara anak2 tersebut, anak kelas 3 SMP. Rasanya yang deg2an dan was-was dari dulu itu kami, pengajarnya, dan bukan mereka. *soktahu. Kini tinggal seminggu lagi. Sesudah berusaha sekuat tenaga dan berdoa, tawakkal adalah hal terakhir yang menjadi pelengkap dari sebuah usaha manusia.

Sekarang masalahnya apakah kami pengajar sudah berusaha sekuat tenaga? apakah mereka anak2 sudah belajar siang malam berdoa kapanpun dan bersiap diri untuk ujian tersebut? Hanya Allah yang tahu.Semoga semua indah pada waktunya, semoga adik-adik kami lulus.. aamiin.

Di report number 1 ini, setelah berbulan-bulan mengajar, ada beberapa hal terkait dengan mereka yang ingin saya ceritakan. Selain kecemasan kami menghadapi UAN SMP, ada beberapa hal, tentu saja.

Kemarin saya kembali mengajar mereka. Saya datang terlalu sore karena hanyut dalam euphoria wisuda periode April 2012 *padahal saya tidak diwisuda, tapi semua orang dijamin hanyut (Bawalah pelampung jika mau nonton wisuda di kampus saya). Rasanya kangen mereka pisan. Alhamdulillah akhirnya bisa bertemu lagi.

Kami belajar di masjid terdekat. Solo career sedang saya jalani, karena teman saya tidak bisa menjadi partner hari itu. Diwa, anak kelas 5 SD, yang biasanya jarang ikut belajar, kini datang dengan buku PR-nya. Dia ditugaskan untuk membuat dua paragraf oleh gurunya. Dari sana saya melihat, standar penilaian di daerah yang berbeda akan berbeda juga. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa yang paling penting adalah esensi dari sesuatu, bukan kemasannya. Tapi saat semua esensi bisa disamaratakan, atau sama baiknya, bukankah orang mulai melihat kemasannya atau keuntungan lainnya? *mohon maaf kalo ambigu, rasanya tidak tega kalo harus terbuka.

Selain itu, sebut saja Rida, adiknya Diwa, adalah anak yang cukup unik. Ada hal yang belum bisa dia ikuti dari proses belajar di sekolah. Biasanya dia dikenal sebagai anak yang tidak begitu suka belajar, walaupun pengajar sudah datang. Hari itu berbeda, dia dengan ceria masuk ke dalam masjid, lalu membuka buku. Dia minta diajari cara mengerjakan PR-nya. Setelah PR selesai, saya beri soal lain. Alhamdulillah dia cukup bisa mengikuti.

Di penghujung hari, saya mengakhiri sesi belajar (SD-SMP-SMA) dengan keadaan luar masjid yang hujan rintik-rintik. Saat saya akan pulang, R berjalan di belakang saya, lalu berujar “Kak, hari ini belajarnya sampai jam 12 malam.”

“Wah.. kenapa Rida? Saya nanti tidak bisa pulang..” saya berkata

“Ga apa, Kakak jangan pulang, tidur di sini saja.”

“Wah saya pulang aja ah..” kata saya sambil senyum-senyum.

“Yah.. ya sudah, Kakak hati-hati di jalan yah.” kata Rida sambil menuju ‘asrama’-nya.

Jujur saat itu saya terharu. Rasanya 1/1000 kemungkinan Rida mengatakan hal seperti itu kepada orang lain. Anak laki-laki itu entah kenapa ceria sekali, berbeda dengan dia yang saya tahu. Alhamdulillah jika akhirnya proses ini menjadi hal yang ia rasakan manfaatnya.Semuanya berproses. Walaupun mungkin pelan-pelan. Langkah-langkah kecil kami kini mulai menapak.

 

Salaam,

 

Rahma

:cerita lain nantikan di report berikutnya

Image

Tanpamu aku.

“Tanpamu Dik, aku merasa hampa.”

–terjemahan dari perasaan seorang Ayah ketika Ibu sedang pergi ke luar kota.

Ibu memang sering pergi ke luar kota. Kali ini berhari-hari lamanya. Pada awalnya Ibu berencana untuk menggunakan pesawat ke kota tersebut, mengingat perjalanan dengan memakai kereta dapat memakan waktu sampai berjam-jam.

Sayang sekali, pesawat mengalami kerusakan. Ibu bahkan menceritakan, “Pesawatnya hanya berputar-putar di bandara. Tidak bisa lepas landas.”

Kami semua kaget dan bersyukur dalam satu waktu. Kaget karena kerusakan mesin pada pesawat nampaknya tidak diberitahukan oleh pihak maskapai penerbangan dari awal. Jadi mereka hanya menunda waktu keberangkatan sampai 5 jam lamanya, lalu memberi tahu penumpang pada akhirnya, setelah pesawat diketahui ‘busuknya‘ (heu.). Semua uang penumpang direimburse. Beberapa penumpang naik pitam, bagaimana tidak, mereka punya acara masing-masing, dan mungkin tidak mempunyai kesempatan untuk menghadiri acar tersebut. Sedangkan Ibu dan temannya memutuskan untuk memakai kereta api saja pada akhirnya.

Bersyukur, karena Ibu saya masih baik-baik saja. Alhamdulillah. Sampai kemarin, saat Ibu pulang, rasanya terharu dan lega.

Yah begitulah. Banyak yang dapat ditarik hikmahnya dari kejadian ini. “Mungkin bukan rezeki naik pesawat saja itu Nak.” Ibu berujar. “Jelek banget tuh maskapainya.” kata seseorang. “Licik dasar..” kata orang lain. “Yah gitu deh..” kata yang lain lagi. Yang pasti, syukur selalu akan diucapkan atas semua karunia-Nya, walaupun yang terjadi memang tidak sesuai dengan harapan kita.

Saya sendiri, malah memiliki kenangan yang kurang baik dengan kereta. Gerbong tempat saya duduk bermasalah, jadi digantikan posisinya dengan gerbong belakangnya. Rasanya was-was sekali, tapi apa mau dikata, tiket sudah dibeli, keluarga sudah menunggu di tempat kelahiran. Akhirnya kami para penumpang tetap menaiki kereta tersebut dan berdoa, memasrahkan keselamatan pada Sang Pemberi Keselamatan.

Di kereta saya sempat berpikir, “Kalau masih seperti ini, rasanya tidak ingin naik kereta lagi.”

Semua penumpang membutuhkan aspek keselamatan dan kenyamanan dalam perjalanannya. Sampai ke tempat itu memang tujuan utama, tapi keadaan di perjalanan juga menentukan. Saya percaya semua orang menginginkan hal yang sama dan tentu akan berusaha menciptakan hal yang diinginkan.

Saya juga yakin setiap pihak selalu dalam keadaan memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Semoga di masa mendatang, jasa semua layanan transportasi di Indonesia makin baik.

Oya, dengar-dengar (baca-baca, di sini di mana2), Indonesia akan punya kereta api supercepat? menarik ya.  aamiin. nyumbang doa aja ya saya mah :)

“Tanpamu Da, Ta, Bil, Wat, Da, Mo, Jaj, Tor, aku tak sampai ke tujuan.”

–terjemahan pikiran seorang anak manusia tentang semua jenis alat transportasi.

Salam,

 

Rahma

 

Kuliah Baru

Salaam,

Sudah kira-kira hampir dua minggu saya memulai kuliah lagi setelah berbulan-bulan jadi guru matematika dan ipa serta freelance di (bakal) pabrik teman dan lain-lain-lain. Rasanya campur aduk waktu pertama kali kuliah, seperti 4 tahun lalu saat saya mau memulai kuliah sarjana saya. Bingung mau pake baju yang mana untuk kuliah pertama. Kerudungnya mau diapain (diapain? dipenitiin!). Akhirnya di hari pertama saya mencapai target saya, yaitu duduk di depan. Paling depan. Dan paling sering ditanya oleh Bapak yang memberi kuliah.

Sekarang, kuliah sudah terasa sibuk lagi. Di minggu-minggu awal saya masih bisa berlengang-lengang dan berleha-leha, bahkan bingung. “Saya kuliah di Farmasi bukan ya?” saya sempat bertanya-tanya begitu kemarin-kemarin, saking kosongnya jadwal saya. Harusnya saya senang, kegiatan klub dan ngajar dan lain-lain tak akan terganggu dengan ketidaksibukan saya tersebut. Tapi saya pikir “Ini bukan farmasi.” kalo tidak sibuk, kalo tidak menghabiskan jatah tidur saya, kalau tidak menghitamkan bagian bawah mata saya. Kemudian saya memutuskan untuk mengambil satu mata kuliah dengan 3 sks. Dan inilah saya sekarang, sibuk kerja kelompok, sibuk tidur karena kecapean, sibuk ga jawab sms karena lupa atau kelewat, sibuk berpikir untuk tugas ini itu.

Senang sih. Karena dengan kesibukan ini, aura farmasi jadi terasa. haha. Saya berdoa semoga saya dan teman-teman dapat melewati semua kegiatan perkuliahan ini dengan baik dan juga tidak lupa untuk meresapi makna dan hikmah dari setiap kuliah yang diambil. Buat apa sih kuliah tapi cuma untuk menggenapi sks, atau untuk nilai A yang kemudian besoknya tidak dapat diaplikasikan? *eea.

Sok2an sih, tapi saya harap saya bukan orang yang menganggap kuliah itu kewajiban yang tak bisa dihindarkan. Semoga.

Jujur saja, setelah kuliah dua minggu kurang ini, mata saya seperti dibuka lebar-lebar. Ini loh, ternyata. Yang jadi pertanyaan saya sudah terjawab. Sekarang saya menjalaninya. Rasanya sudah tidak gelap lagi, karena kacamata hitamnya sudah saya lepas. haha. bzz.

Yok ah, “Jabat dan Jalani– Bapaknya Alif, N5M.”

 

Salaam,

 

Rahma

p.s: i’m currently reading “Farmasi Sosial”