Assalaamu’alaikum
Post saya kali ini akan bercerita tentang kegiatan yang sudah saya dan teman jalani selama beberapa bulan belakangan. Dimulai dari Oktober 2011, kami memulai langkah-langkah kecil agar kemudian bisa melangkah lebih besar. Langkah kecil itu di antaranya yaitu mengajar mereka.
Anak-anak yang berada di berbagai tingkatan sekolah dan berbagai macam kebutuhan. Serta berbagai macam perilaku cute anak-anak, kami temui setiap kegiatan belajar mengajar diadakan.
Jujur saja, akhir-akhir ini, karena saya dan teman saya sudah memulai kuliah lagi, jadi agak sulit untuk membagi waktu. Padahal UAN SMP semakin dekat, dan ada di antara anak2 tersebut, anak kelas 3 SMP. Rasanya yang deg2an dan was-was dari dulu itu kami, pengajarnya, dan bukan mereka. *soktahu. Kini tinggal seminggu lagi. Sesudah berusaha sekuat tenaga dan berdoa, tawakkal adalah hal terakhir yang menjadi pelengkap dari sebuah usaha manusia.
Sekarang masalahnya apakah kami pengajar sudah berusaha sekuat tenaga? apakah mereka anak2 sudah belajar siang malam berdoa kapanpun dan bersiap diri untuk ujian tersebut? Hanya Allah yang tahu.Semoga semua indah pada waktunya, semoga adik-adik kami lulus.. aamiin.
Di report number 1 ini, setelah berbulan-bulan mengajar, ada beberapa hal terkait dengan mereka yang ingin saya ceritakan. Selain kecemasan kami menghadapi UAN SMP, ada beberapa hal, tentu saja.
Kemarin saya kembali mengajar mereka. Saya datang terlalu sore karena hanyut dalam euphoria wisuda periode April 2012 *padahal saya tidak diwisuda, tapi semua orang dijamin hanyut (Bawalah pelampung jika mau nonton wisuda di kampus saya). Rasanya kangen mereka pisan. Alhamdulillah akhirnya bisa bertemu lagi.
Kami belajar di masjid terdekat. Solo career sedang saya jalani, karena teman saya tidak bisa menjadi partner hari itu. Diwa, anak kelas 5 SD, yang biasanya jarang ikut belajar, kini datang dengan buku PR-nya. Dia ditugaskan untuk membuat dua paragraf oleh gurunya. Dari sana saya melihat, standar penilaian di daerah yang berbeda akan berbeda juga. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa yang paling penting adalah esensi dari sesuatu, bukan kemasannya. Tapi saat semua esensi bisa disamaratakan, atau sama baiknya, bukankah orang mulai melihat kemasannya atau keuntungan lainnya? *mohon maaf kalo ambigu, rasanya tidak tega kalo harus terbuka.
Selain itu, sebut saja Rida, adiknya Diwa, adalah anak yang cukup unik. Ada hal yang belum bisa dia ikuti dari proses belajar di sekolah. Biasanya dia dikenal sebagai anak yang tidak begitu suka belajar, walaupun pengajar sudah datang. Hari itu berbeda, dia dengan ceria masuk ke dalam masjid, lalu membuka buku. Dia minta diajari cara mengerjakan PR-nya. Setelah PR selesai, saya beri soal lain. Alhamdulillah dia cukup bisa mengikuti.
Di penghujung hari, saya mengakhiri sesi belajar (SD-SMP-SMA) dengan keadaan luar masjid yang hujan rintik-rintik. Saat saya akan pulang, R berjalan di belakang saya, lalu berujar “Kak, hari ini belajarnya sampai jam 12 malam.”
“Wah.. kenapa Rida? Saya nanti tidak bisa pulang..” saya berkata
“Ga apa, Kakak jangan pulang, tidur di sini saja.”
“Wah saya pulang aja ah..” kata saya sambil senyum-senyum.
“Yah.. ya sudah, Kakak hati-hati di jalan yah.” kata Rida sambil menuju ‘asrama’-nya.
Jujur saat itu saya terharu. Rasanya 1/1000 kemungkinan Rida mengatakan hal seperti itu kepada orang lain. Anak laki-laki itu entah kenapa ceria sekali, berbeda dengan dia yang saya tahu. Alhamdulillah jika akhirnya proses ini menjadi hal yang ia rasakan manfaatnya.Semuanya berproses. Walaupun mungkin pelan-pelan. Langkah-langkah kecil kami kini mulai menapak.
Salaam,
Rahma
:cerita lain nantikan di report berikutnya
